Kemana mereka di saat krisis?

Tidak, saya tidak membicarakan mereka para penguasa yang dengan gampangnya dapat ditebak sedang 'kabur' kemana (entah berlibur ke karibia atau berdiam diri di sebuah bunker). Saya membicarakan mereka yang terduduk di trotoar jalan sembari menangkupkan kedua tangan untuk mengharapkan belas kasih berupa uang. Mereka, dengan karung yang disampir di bahu, tengah memilah tumpukan sampah untuk mengambil botol plastik yang kemudian ditukar ke tempat daur ulang. Mereka yang di malam hari tertidur berelaskan kardus dan lantai yang dingin di teras depan toko kelontong. Juga mereka yang dengan riangnya bernyanyi di perempatan lampu merah, harap-harap cemas dapat menghibur pengendara mobil dan motor di bawah teriknya matahari, untuk mengisi kaleng kosong dengan recehan rupiah.  Di saat kebanyakan toko terpaksa harus gulung tikar, orang-orang yang biasanya membantu justru sedang mengkarantina diri, dan pemerintah yang kewalahan mengurus rakyat golongan menengah ke atas, kemana mereka pergi?

Sebelum wabah menyerang, saya dulu sering berkunjung ke daerah pasar besar. Sudah merupakan hobi saya untuk sekadar memotret kehidupan yang ada disana. Pasar besar juga merupakan tempat belajar saya untuk ranah street photography dan people interest, saya selalu diajari oleh pasangan yang kebetulan adalah seorang fotografer amatiran dengan banyak pengalaman di lapangan. Saya begitu tertarik dengan aktivitas para ibu rumah tangga dengan tangan lincahnya memilah-milih tumpukan buah-buahan dan sayur mayur untuk dimasak kemudian dihidangkan kepada keluarganya di rumah, kuli pasar dengan bahunya yang kokoh menopang puluhan kilogram karung ataupun kerdus-kerdus berisi sembako yang sama beratnya, bapak-bapak juru parkir yang dengan asyiknya 'ngudud' di bawah pohon sembari menunggu mobil dan motor yang akan parkir,  para pedagang kaki lima yang tengah sibuk bercengkrama di depan toko-toko yang berjejer di pinggir jalan, atau bahkan sesepuh yang bernyanyi di depan toko dengan speaker yang suaranya sudah tidak karuan, menghibur orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Karena keterbatasan saya yang belum mampu berbahasa jawa, saya hanya mampu memperhatikan kegiatan-kegiatan mereka dari kejauhan sembari membidik lensa ke arah pemandangan yang menurut saya menarik. Seandainya kami berkomunikasi, saya yakin mereka pasti punya banyak cerita untuk disampaikan.

Saya sebenarnya ingin sekali bertukar kata dengan mereka semua satu per satu. Ingin tahu bagaimana mereka mampu bertahan di kondisi sulit seperti ini, apakah mereka tetap tinggal di rumah atau justru nekat bekerja dengan kondisi yang lebih sulit mengingat perekonomian dan kegiatan konsumtif yang mulai anjlok? Bagaimana dengan mereka yang tidak punya tempat bernaung dan berlindung? Apakah mereka bahkan tau bahwa ada virus ganas yang tengah menyebar ke hampir seluruh penjuru negeri? Saya tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, jujur saja. Pengalaman saya di lapangan masih sangat kurang mumpuni. Saya hanya berharap bahwa mereka masih dan akan terus baik-baik saja. Saya tidak sabar ingin kembali lagi ke sana setelah wabah ini berakhir. Walaupun tidak saling bertukar sapa, saya dapat mengobati rindu di tempat yang kaya akan beragam kehidupan dan mungkin turut membantu mereka untuk berada kondisi yang lebih baik lagi, meskipun hanya sebentar.

Benar, virus ini justru menonjolkan sisi terburuk dari manusia. Arogansi dan keserakahan membabat habis kepedulian akan sesama. Hanya mereka di garis terdepan yang rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Saya menyadari bahwa hidup tidak pernah adil untuk mereka yang menempa nasib di jalanan. Saat harapan sudah pupus, mungkin mereka hanya mampu kembali bergantung pada takdir yang Maha Kuasa atau kemungkinan-kemungkinan lain yang mampu membawa keberuntungan.

Post ini saya tulis untuk para pejuang kehidupan, mereka yang masih rela bekerja untuk membantu sesama di saat orang lain (termasuk saya) yang dengan nyamannya justru berdiam diri di rumah masing-masing. Mereka yang rela menantang teror yang tidak terlihat untuk mengisi perut-perut kosong sanak dan keluarga atau bahkan untuk dirinya sendiri. Mereka yang masih rela memilah tumpukan sampah yang sudah menipis. Mereka yang masih bernyanyi saat orang lain tengah sibuk memikirkan diri sendiri. Mereka yang mungkin masih tertidur di trotoar pinggir jalan (Yaampun, saya sangat berharap mereka mendapatkan tempat yang lebih baik dibanding di jalanan), dan mereka yang rela berjalan atau bahkan bersepeda, entah dari Sidorajo atau Bumiaji ke Malang Kota untuk sekadar mengais rezeki.


Sekali lagi, saya berharap mereka semua baik-baik saja.

Comments

Popular Posts