Pandemi Dalam Dua Sisi
Saat orang lain sibuk di rumah, mereka justru kehilangan
pembeli. Sejak pandemik mulai merajai kehidupan manusia akhir-akhir ini, pemandangan
seperti ini tidak jarang terlihat. Seperti berada di jalur buntu, masing-masing
dari mereka harus memikirkan cara untuk keluar dari keadaan. Banyak diantara
mereka menempatkan usahanya sebagai mata pencaharian utama, banyak pula yang
mempekerjakan para buruh untuk memperlancar usahanya.
Pandemik ini berdampak buruk bagi siapapun yang
menggantungkan hidupnya dalam roda perekonomian, buruh dan pengusaha kecil—yang
berada di posisi terbawah, justru mendapatkan nasib yang paling parah. Hampir
setiap hari saya mendengar pasangan saya—yang adalah seorang buruh, mengeluh dan
menceritakan kekhawatiran akan nasibnya di masa depan. “Kalau di PHK, aku mau
dapet duit dari mana?”, “Kalau sakit, aku jadi ga bisa kerja. Otomatis jadi
beban buat keluarga juga. Bisa ngerti bebanku ga?” Ya, saya mengerti betapa
sulitnya hidup di kondisi sekarang, apalagi sembari menyandang status buruh.
Dan jujur saja, aku tidak punya hak untuk berkata apapun tentang kondisinya.
Mencoba menenangkannya pun seperti berusaha menyiram sebotol air untuk rumah
yang sedang kebakaran, useless. Kapitalisme memperburuk sistem kelas sosial di
masyarakat, apalagi disaat-saat genting ini. Tetapi, suka atau tidak, kebanyakan orang-orang
juga bergantung padanya untuk bertahan hidup.
Benar adanya bahwa semua hal punya dua sisi, layaknya
pandemik ini. Meskipun membuat perekonomian berhenti sejenak, pandemik ini mampu
membuat kondisi bumi semakin membaik. Saya cukup yakin para aktivis lingkungan sekarang
tengah bersorak karena berkurangnya produksi emisi di seluruh dunia. Kita semua, secara
tidak langsung, sedang berdiri bersama mereka untuk memerangi perubahan iklim.
Bravo for that!
Untuk membahas ini dari sisi kemanusiaan, saya rasa juga
banyak sisi terangnya. Saya setuju dengan pikiran orang-orang yang
semakin meragukan kinerja pemerintah, tetapi pandemik ini juga menjadi momentum
bagi para dermawan untuk membantu mereka yang sedang berjuang untuk
keberlangsungan hidup kita dan orang-orang yang membutuhkan. Baru saja saya
membaca sebuah cuitan di twitter, tentang seorang tenaga medis yang di rumah
sakitnya menerima sumbangan sebesar 500 dus makanan untuk diberikan kepada
rekan-rekannya, si dermawan satu ini pun tidak ingin dibeberkan identitasnya.
Ia semata-mata hanya ingin mereka semangat dalam bekerja. Menurut saya ini
bermakna lebih mendalam, di saat pemerintah lelet atau bahkan terkesan tidak
peduli dalam menanggapi krisis APD dan justru memberi lampu hijau kepada DPR untuk
melakukan swab test pertama, peran tenaga medis jadi kurang diprioritaskan. Padahal ironisnya, mereka lah yang berada di garis terdepan dalam melawan
pandemik ini. 500 dus makanan tadi adalah wujud rasa kepedulian terhadap mereka
yang tak kenal lelah bertarung di arena. Rasa terima kasih tidak akan ada
habisnya untuk mereka.
Gerakan kolektif juga mulai bermunculan di antara
masyarakat, banyak yang turun tangan untuk membuatkan baju hazmat, dari
pengusaha-pengusaha kecil dan di back-up oleh donasi dari masyarakat. Faith in
humanity: restored. Di balik banyaknya arogansi yang bermunculan, seperti panic
buying dan covidiots, gerakan kolektif ini memunculkan kembali harapan saya
akan kehidupan yang lebih baik bagi semuanya. Sekarang, pertanyaanya, apakah
hal tersebut akan terus terjadi bahkan ketika pandemik ini berakhir? Well, tinggal
lihat saja nanti.
Wabah ini mengajarkan betapa pentingnya rasa kepedulian akan
sesama. Ketika sudah kehilangan pegangan, ketakutan mulai merajalela, dan harapan
akan esok hari nyaris hilang, manusia hanya mempunyai satu sama lain untuk
terus maju dan mencari solusi terbaik bagi semua. Tidak ada hal di dunia ini
yang tanpa pengorbanan, mungkin umat manusia sudah sebegitu bebal dan
congkaknya, hingga tidak melihat bahwa makhluk sekecil mikroorganisme pun mampu mengancurkan empire yang sudah dibangun sedemikian besar, kapitalisme.
Well, saya tidak menganut kepercayaan apa-apa, tidak begitu
peduli juga dengan pendapat Karl Marx, Engels, Lenin atau filsuf sosialisme
lain. Saya hanya mengamati hal-hal yang terjadi di sekitar, kemudian saya
tuangkan dalam tulisan ini. Benar adanya bahwa kemanusiaan adalah hal yang
paling dibutuhkan saat-saat ini. Pandangan ekstrim saya; hal-hal yang terlalu
juga tidak baik, jadi populasi manusia yang terlalu banyak adalah hal yang buruk. Pandemik ini mungkin saja
berlaku sebagai pembasmi alami di muka bumi. Saya berpikir sudah terlalu banyak
orang di dunia ini, menguranginya sedikit mungkin akan membantu keberlangsungan
hidup segenap umat manusia agar lebih lama bertahan di bumi. Karena jujur saja,
kalau pertumbuhan manusia sudah melebihi 10 milyar orang, kelangkaan sumber
daya alam akan semakin nyata, dan bisa jadi manusia akan menghadapi masalah
yang kemungkinan lebih buruk lagi; kelaparan.
Menurut saya, pandemik ini adalah sebuah kesempatan untuk
mengubah pandangan hidup manusia. Saya tidak semerta-merta bilang cara hidup,
sih. Saya percaya ada banyak opsi di luar sana untuk cara hidup yang lebih baik
lagi. Ini hanya lah tentang pandangan, karena pandangan mempunyai pengaruh yang
sangat besar untuk mengubah cara hidup kita. Mungkin dengan begitu, kesadaran
kolektif turut muncul sehingga manusia menjadi lebih tidak.. egois..?
Saya sekarang cuman penasaran akan kehidupan setelah pandemik
ini berakhir, akankah manusia kembali seperti dulu dan menjadi bom waktu akan
kehancuran mereka sendiri? Ataukah lebih mawas diri tentang posisinya—yang tidak
lain hanyalah sebuah titik kecil di alam semesta? Ya, hanya waktu yang mampu
menjawabnya. Sampai jawabannya terungkap, saya hanya mampu menenggak obat batuk
dan segelas vitamin C. Semoga saya juga bisa bertahan.
Terima kasih.
Comments
Post a Comment